Dear Diary...

“Menangis sambil tersenyum pun aku bisa. Tapi, tidak, ini bukan topeng.”

“Menangis sambil tersenyum pun aku bisa. Tapi, tidak, ini bukan topeng.”

(Source: seppooku, via pelukishujan)

Nanti

Nanti aku akan cerita. Nanti aku akan jelaskan. Tapi, bukan begini. Begini, aku sakit. Tolong mengerti aku, sebentar saja. Nanti, biar aku yang mengerti kamu. Tolong ya.

“Kamu bersikap semacam itu bukannya aku tak sedih. Aku menahan sedih ku, berharap ini tidak berlarut-larut, dan juga tidak mempengaruhi keputusanmu. Semoga diamini Tuhan.”
Ya Allah, Selamatkan Dia…

Ya Allah, ini kedua kalinya.

Ya Allah, ini sakit banget.

Bukan.

Ya Allah… bukan.

Bukan aku, tapi dia.

Selamatkan dia, Ya Allah.

Selamatkan dia.

Lalu, aku.

“Hakikat cinta sejati adalah melepaskan. Iya kah?”
“Kau tahu, hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Banyak sekali para pencinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat.”
— Tere-Liye
“Memang tidak ada batas untuk bersabar, tetapi ada batas di dalam kewajaran. Maaf itu tidak selalu sepaket dengan kesempatan.”
Tumben Perhatian...

Barusan nih, adek aku, si Miky SMS...

Miky: "Kak Ulin?"

Aku: "Apa?"

Miky: "Gak mau keluar?"

Aku: "Kemana?"

Miky: "Hahaaa... ke perpus."

Aku: "Lapo? Nggak ah..."

Miky: "Hadeehh... yaudah kalo gak mau."

Aku: " Emang ada apa?"

Miky: "Ya gak papa, sekalian makan..."

*GLODAKKK, aku langsung melotot, jungkir-jungkir dari kursi, sibuk mastiin, bener nih yang SMS barusan si Miky????* Hahahahaa... tumben nih anak, siang-siang perhatian kayak gini.

Phantom of The Opera
Andrew Lloyd Weber / Phantom of The Opera

“Phantom of The Opera”, wow cool… :)

[Flash 9 is required to listen to audio.]
0 plays
Asal Jangan Ada Kosong

“Asal jangan ada kosong…”, ucapnya sambil menahan isak, menghapus air mata, dan mengobati sendiri luka-luka yang ditorehkan oleh kecintaannya.

“Entah apa yang ia ingin. Entah pusaka apa yang ia cari-cari diantara serpih-serpih mata masa. Ia acak-acak hingga porak-berserak.”
“Entah bagaimana hati senang bermain-main. Ia banyak tak tau. Ia banyak tak mengerti. Ia hanya tau, bahwa Ia harus bahagia. Ia hanya tau, bahwa kekosongan harus diisi.”
Dari kiri: Aku, Mega, Nurul, and Rara

Entah gimana ceritanya, lagi-lagi dibilangnya senyumku paling jual mahal, wkwkwkwk :D :DItu siih bukan jual mahal, tapi mata udah kerasa berat banget, lataran semalem ga tidur, nungguin kedatengan nyokap, bokap, and Ratu. :)))
Jadi kangen sih, sama mereka-mereka di atas, hoaahhhmmm. Entah kapan bisa ngumpul lagi kaya dulu. Hiiks. 

Dari kiri: Aku, Mega, Nurul, and Rara

Entah gimana ceritanya, lagi-lagi dibilangnya senyumku paling jual mahal, wkwkwkwk :D :D
Itu siih bukan jual mahal, tapi mata udah kerasa berat banget, lataran semalem ga tidur, nungguin kedatengan nyokap, bokap, and Ratu. :)))

Jadi kangen sih, sama mereka-mereka di atas, hoaahhhmmm. Entah kapan bisa ngumpul lagi kaya dulu. Hiiks. 

Lalu Nyanyikan Lagu Penutup Itu

Pakailah baju hitam, sayang.

Di hati ku, kau sedang dimakamkan.

Konyol :)

Pas SMA dulu, dulu, dulu, jaman kelas 2. Aku punya temen namanya Risa. Dia adalah sahabatku. Pagi-pagi, hampir setiap hari saat tiba di sekolah, kedua matanya tuh selalu keliatan sembab, merah, dan kadang-kadang bisa sampe bengkak karena nangis semaleman. Kalo sampe kaya gitu, aku tau dia pasti lagi ada masalah sama si cowonya. Dulu itu, ceritanya mereka pacaran backstreet dari orang tua, karena Risa belom boleh pacaran. Tapi perasaan tak mengenal usia kan? Kenyataannya, mereka udah saling memendam rasa sejak  SMP. Karena takut kehilangan saat akan berpisah SMA, akhirnya mereka jadian.

Katanya cinta, tapi kenapa sering nangis? Katanya cinta, tapi kok sebentar baikan, sebentar marahan. Memangnya cinta itu seperti itu ya?  Apa gak bosen? Ada kalanya, Risa bakal bahagiaa… banget, senyum-senyum sumringaaah banget, tapi ada kalanya dia jadi ga sanggup diajak ngomong sama siapapun karena perasaannya lagi sakit banget, katanya. Aku sering bertanya-tanya sendiri tentang keadaan itu di masa lalu. Walau sering kali aku menjadi tempat curhat sahabatku ini, walau aku telah memberikan solusi-solusi untuk menenangkan hatinya, tapi aku tetap bertanya-tanya. Kenapa harus cinta, bila resah?

Cinta kan harusnya menguatkan, bukan membuat resah…

Kata orang-orang, tempat aku bertanya-tanya, dulu: “Jatuh cinta, pacaran, marahan, baikan, marahan, dan baikan berulang-ulang itu sudah wajar”. Itulah yang terjadi pada orang jatuh cinta. Tapi, bila semacam itu, bukankah kita sakit? Untuk apa jatuh cinta bila menyakitkan?

Aku pernah mendengar cerita salah seorang teman SD-ku, pas acara reuni angkatan di SD. Dia cerita, katanya pengen gemuk tapi susaaah, dari dulu ya segitu-gitu aja. Terus dia cerita, katanya pas kelas 2 SMA dia sempat agak gemuk. Waktu itu, dia lagi gak pacaran, makanya jarang sedih-sedih. Ohh?? Fakta ini lagi…

Sejak tau fakta-fakta ini, aku selalu meyakinkan hatiku. Ahh suatu hari nanti, aku mau jatuh cinta, tapi nggak seperti ini. Aku mau jatuh cinta, tapi jatuh cinta yang dewasa. Aku mau jatuh cinta, tapi gak marahan, baikan, marahan, baikan, terus berulang-ulang. Aku mau jatuh cinta, dengan seseorang yang dewasa. Ingat, dewasa itu bukan usia. Nanti saat jatuh cinta, aku pun akan mengerti, mencoba mengerti, dan memaksa diriku untuk mengerti. Aku gak suka ribut dan aku emang nggak pernah ribut. Apa-apaan coba, mesti ribut-ribut sama orang kaya gitu? katanya sayang, katanya cinta, tapi kok, berkali-kali nyakitin hatinya sih?

Nah, belakangan, aku kenal seseorang nih. Dia tuh kakak temenku. Kita sepakat, untuk nulis bareng. Tapi, entah gimana bisa, dalem waktu gak lama kita baik-baikan, bisa banget dia, marahan, baikan, marahan, baikan, gituuuu terus sama aku. Padahal kita kan temenan. Itu juga kalo baikan, mesti aku yang minta maaf duluan. Padahal aku juga, nggak ngelakuin salah yang keterlaluan kok. Paling banter ya, kesalahan karena aku childish. Tapi, apa childish nggak bisa dimaklumi? Apa sifat semacem itu dosa? Ooooh… ohhh, untuk sekali ini aku nggak habis pikir. Aku janji deh nggak bakal berantem lagi dengan cara konyol macem ini. Mending aku diemin aja, apa mau-mau dia. Sumpah, makan ati. Seumur-umur juga aku nggak pernah bikin orang marah gara-gara yang kaya begini. Biasanya, aku selalu dinasihatin aja, kalo aku salah. InsyaAllah aku nurut kok, kalo ngedengerin nasihat untuk berubah ke arah yang baik.

Entah kenapa, aku susah banget ngilangin childish. Mungkin karena satu keyakinan dalem diriku, bahwa menjadi dewasa dan serius adalah hal yang membosankan. Tapi, aku tau waktu kok. Ada saat serius, ada pula saat becandaan. Tapi kalo harus baikan, marahan, baikan, marahan, oww owww owww, no way… :)